MALTA – Kapal bantuan kemanusiaan MV Conscience yang dioperasikan Freedom Flotilla diserang di lepas pantai Malta pada Jumat (2/5/2025) dini hari. Serangan dilaporkan menyebabkan kerusakan pada lambung dan mesin kapal serta memicu kebakaran di geladak dan kabin.
Menurut juru bicara Freedom Flotilla Coalition (FFC) Yasemin Acar, kapal tersebut mengangkut 30 aktivis dan bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Kapal berusia 53 tahun itu baru saja meninggalkan perairan teritorial Malta sebelum diserang oleh pesawat nirawak. Permintaan bantuan telah disebar ke pelabuhan-pelabuhan terdekat.
Media Israel seperti N12 dan The Jerusalem Post menyebut pelaku serangan tidak diketahui. Namun, Al Jazeera melaporkan bahwa serangan dilakukan oleh Israel, yang selama ini disebut berupaya mencegah masuknya bantuan ke Gaza. Serangan ini mengingatkan pada insiden serupa terhadap kapal MV Mavi Marmara pada 2010.
Serangan terhadap MV Conscience berlangsung bersamaan dengan serangan udara Israel ke wilayah Damaskus, Suriah. Militer Israel dilaporkan menyasar area dekat Istana Kepresidenan Suriah, dengan alasan melindungi komunitas Druze di tengah konflik bersenjata antara milisi Druze dan kelompok pendukung pemerintah sementara Suriah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan serangan ditujukan untuk menjaga keamanan komunitas Druze yang juga merupakan bagian dari warga Israel. Ia menyebutkan, Israel tidak akan membiarkan terjadinya ancaman terhadap Druze di wilayah selatan Damaskus.
Konflik di wilayah pinggiran Damaskus telah menewaskan sedikitnya 102 orang sejak awal pekan. Ketegangan dipicu oleh pernyataan seorang tokoh Druze yang dianggap menghina Islam, meskipun klaim tersebut dibantah oleh sejumlah pemimpin komunitas Druze. Pemerintah Suriah telah mengerahkan pasukan untuk meredakan konflik.
Sementara itu, serangan Israel ke Gaza juga terus berlanjut. Pada Jumat, serangan ke Gaza tengah menewaskan delapan orang, sembilan orang di kawasan Sheikh Radwan, dan satu anak di Khan Younis. Gelombang baru serangan dimulai sejak 18 Maret 2025, setelah kegagalan perundingan gencatan senjata pasca jeda tempur 19 Januari–1 Maret 2025.
Panglima Angkatan Bersenjata Israel, Letjen Eyal Zamir, mengumumkan rencana serangan besar lanjutan ke Gaza. Sejak akhir 2024, Israel dilaporkan memperluas aktivitas militernya, termasuk mendekati zona penyangga Damaskus dan memperketat pengepungan terhadap Gaza.












